Ayat-Ayat Cinta

27 Maret 2008, Kamis

Ayat-ayat Cinta

Hari  ini rada malas keluar dari rumah,,,wlo ada niat sih nge-net di kampus, tapi ketenangan rumah lebih membujukku untuk berdiam di rumah. Setelah selesai bersih-bersih pagi tadi, aku mulai nonton 4 film…wow… Ayat-ayat cinta, School Dance Party, Ketika dan Ekskul. Kecuali Ayat-Ayat Cinta sih dah tergolong film lama. Iseng-iseng buka beberapa keping DVD yang pernah di-burn berisi film-film yang pernah di-download dari Rileks ITB. Setidaknya buat cukup menghiburlah…

Sekilas tentang Ayat-Ayat Cinta…

Film bernuansa muslim ini cukup mengambil perhatian orang Indonesia, maybe karna mengisahkan kisah poligami yang menggugah hati dan kisah cinta bernuansa muslim. Tapi setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari film ini,,, Fahri, sosok  seorang laki-laki yang banyak dikagumi oleh perempuan ; berpendidikan, berakhlak, sabar dan taat pada agamanya. Maria yang dikisahkan sebagai seorang gadis Nasrani pada film ini yang menaruh hari pada Fahri namun karna perbedaan yang ada antara mereka Fahri tidak berani melangkah serius dengan Maria. Aisyah dikisahkan sebagai seorang gadis muslimah yang akhirnya menjadi istri Fahri.  Seiring dengan waktu, banyak masalah melanda pernikahan mereka, Fahri difitnah memperkosa seorang gadis Mesir dan akhirnya masuk penjara. Aisyah tetap setia mendampingi Fahri walau sebenarnya rasa sakit harus ditanggungnya karena dia menikahi seorang laki-laki yang sebenarnya tidak secara utuh dikenalnya. Kisah Fahri sedikit banyak mirip dengan kisah Yusuf di Alkitab dan Alquran. Yang pada akhirnya Maria ternyata sakit dan hanya Fahri yang ada di hatinya, Aisyah akhirnya merelakan suaminya untuk menikahi Maria karena maria sangat membutuhkan Fahri di dalam sisa hidupnya, sedangkan janin di dalam kandungan Aisyah membutuhkan Fahri sebagai ayahnya. Film ini banyak mengubah paradigma orang-orang Indonesia mengenai perkawinan poligami, yang dulunya banyak yang sangat menentang terutama kaum wanita, sekarang dengan kharisma yang diberikan film ini tidak selamanya poligami itu harus ditentang “asalkan” suaminya bisa bertindak adil.

But, klo aku sendiri, untuk alasan apapun aku ga siap menghadapi kehidupan pernikahan poligami. Menurutku, tak kan ada di dunia ini seorang wanita yang siap untuk melihat orang yang disayanginya beranjak dari sisinya dan membagi kasih sayang yang seharusnya utuh menjadi miliknya buat wanita lain,,, pasti ada airmata dan rasa sakit. Dan belum pernah kutemui di dunia ini orang yang benar-benar adil dalam hidupnya, laki-laki maupun perempuan. So buatku pernikahan itu tetap hanya ada sekali, monogamy, selain itu pasti ada konsekuensi dan harga yang harus dibayar.

Tapi setidaknya, film ini sudah memberi warna buat nuansa film Indonesia yang nggak hanya film percintaan gaya anak muda (ABG) yang rada-rada cengeng dan mulai membosankan, yang mulai hanya mengumbar gaya-gaya pacaran yang penuh kiss, dll. Film “Ayat-Ayat Cinta” ini cukup menantang  perfilman Indonesia. Sukses buat Insan Perfilman Indonesia!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: