Senin pagi, 21 April 2008

Hujan terus mengguyur Kota Bandung sejak malam tadi hingga pagi ini. Jam dinding sudah menunjukkan jam7 namun matahari masih terbenam dalam selimut awan yang tebal, hangatnya pun belum dapat kurasakan mencairkan darah-darah yang membeku di tubuh ini. Hangatnya selimut putih lembut tuk terus berbaring bermanja di atas kasur mengajakku untuk enggan menyentuh air menyikat gigi dan melakukan aktifitas ku.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak beranjak dulu dari hangatnya selimutku, setelah mengucap syukur buat malam yang telah berlalu dalam lindungan kasihNya, kukirimkan sebuah sms buat mama dan bapak menanyakan kabar mereka dan sebuah sms lagi mengucapkan selamat istirahat malam buat seseorang tersayang yang jauh disana. Kemudian ku hanyut kembali dalam cerita dan kisah2 dari sebuah novel Indonesia karangan Andrea Hirata “Laskar Pelangi”. Sejak kemarin sore aku membenamkan diri serasa ikut merasakan kisah2 yang dipaparkan dalam buku itu, baru seperempat dari kisah di buku itu yang masih kubaca keburu rasa ngantuk dan lelah kemarin menjemputku ke dalam peraduan malam.

Kisah yang sangat menyentuh, salut buat Andrea Hirata… wajar klo buku ini bisa mengambil perhatian jadi best seller di toko2 buku di negeri ini. Mengajakku mengingat kembali masa kanak2ku (childhood memories) di sebuah kota kecil di Sumatera Utara. Lewat buku ini aku melihat suatu keajaiban besar yang dapat mengubah dunia yaitu “pendidikan”. Benar-benar membangkitkan semangat dan mengajakku mengucap syukur buat setiap apa yang bisa kurasakan sejak aku kecil dibesarkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kota kecil yang bisa ditempuh dari Kota Medan 4-5 jam dengan menggunakan kendaraan dan harus berjuang menghadapi jalan aspal yang berlubang-lubang dan berkelok-kelok mengocok perut dan ingin mengeluarkan isinya, perjalanan yang sebenarnya cukup menyiksa namun selalu kulewati dengan rasa senang.

Tapi jangan salah,,, banyak bibit unggul dari kota kecil ini, banyak calon-calon orang berhasil dari kota kecil yang kotanya dari dulu sampai sekarang nggak pernah terlihat ada perubahan kecuali kota yang semakin tua ini dan sudah banyak orang berhasil dari kota kecil yang tapi cukup nyaman ini namun sayangnya tak seberapa dari mereka punya niat untuk kembali membangun kota ini. Apa yang pernah kulihat sejak aku SD itu juga yang selalu kutemui kalau aku pulkam alias pulang kampung. Ada sich yang cukup menghibur hati sekarang, Objek Wisata Taman Iman. Bukit-bukit yang dibentuk dan dihias dengan lukisan, patung, rumah2ibadah dari 5 agama di Indonesia dan kisah2 cerita kitab suci, cukup indah… Semoga tidak luntur keindahan ini dan selalu lahir orang-orang yang mau peduli. Banyak kisah yang terukir dan lahir dari sebuah kota kecil ini, 2 paragraf ini tak cukup mengisahkan kota masa kecilku ini, lain kali kita sambung dengan kisah lainnya. Thanks buat Andrea Hirata buat rangkaian ceritanya mengingatkanku bahwa banyak pojok2 di negeri ini yang menjadi kantong kemiskinan yang belum tersentuh… Sebagai contoh: Tanah Batak yang kaya akan potensi SDM sebenarnya namun tenggelam karena jerat kemiskinan… Semoga dari generasiku, teman-temanku…dari antara kami suatu saat nanti muncul orang2 yang peduli…

Argh…membuatku jadi rindu pulang kampung dan mengingat setiap rangkaian nostalgia bersama orang yang kusayangi, bersama dengan teman-teman sepermainanku dulu… Sekarang waktunya buat berjuang dulu, Ria!!!!

Cheers….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: