Laskar Pelangi

Laskar Pelangi …

Akhirnya selesai juga ku baca karya Andrea Hirata, buku pertama dari tetralogi karyanya.

Sebuah karya yang hadir dalam kesederhanaan dan beratnya perjuangan hidup. Sebuah karya yang membuat kita para pembaca seakan ikut terhanyut dalam rangkaian cerita yang ada. Terhanyut dalam indahnya perjuangan hidup yang dipenuhi dengan cinta. Seperti rangkaian kata yang tertulis di dalam sampul buku ini … “ Tidak pernah ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta yang murni dan tulus. Cinta yang mendalam menebarkan energi positif yang tidak hanya mengubah hidup seseorang, tetapi juga menerangi kehidupan orang banyak…”

Laskar pelangi merupakan anak-anak dari latar belakang kehidupan yang benar-benar miskin di Belitong, di sebuah Pulau kecil dimana PN Timah, perusahaan besar yang mengorek kekayaan bumi negeri ini ada. Sebuah pulau dimana kasta antara petinggi PN Timah berlimpah dengan segala kenikmatan dunia ini sementara kemelaratan dan susahnya hidup begitu dirasakan oleh masyarakat Belitong dan para buruh PN Timah… Kasta yang sangat memprihatinkan, inilah kekejaman yang terjadi di negeri ini.

Namun, yang menarik adalah bagaimana kisah masa kecil dari para laskar pelangi menjemput masa depannya masing-masing. Bagaimana mereka akhirnya memaknai hidup ini dan menemukan jalannya masing-masing. Yang paling berkesan buatku adalah Lintang, seorang anak laki-laki yang begitu jenius, saat anak-anak seumuran SD bersama dia belajar bagaimana proses aritmatika, tambah- jumlah – kurang dan membagi angka, pikirannya sudah membedah habis teori-teori Einstein, Andre Ampere, teori cahaya dan warna dan banyak lagi teori yang seharusnya menjadi bagian mahasiswa di perguruan tinggi. Dengan segala keterbatasan dia terus belajar, buku-pelajaran-sekolah adalah hal yang begitu membuat hidupnya menarik dan bersemangat.

Namun, pada akhirnya di kelas 3 SMP, ayahnya meninggal dunia, sementara dia anak laki-laki satu-satunya di keluarganya yang bisa diharapkan menyambung hidup keluarganya, benar-benar mengiris hati saat dia harus putus sekolah karena alasan kemiskinan. Negeri ini kehilangan Einstein-nya, negeri ini kehilangan potensi besar yang harus dibenamkan dalam pekerjaan kuli yang begitu keras di PN Timah, yang notabene sebenarnya negeri ini sangat kaya. Pemandangan yang seharusnya membuat hati para koruptor di negeri ini malu dan bunuh diri saja, karena terlalu mementingkan perutnya yang buncit dan akan hampir meledak itu karena kekenyangan makan uang yang bukan seharusnya miliknya. Tragis memang…

Lewat buku ini benar-benar pandanganku dibukakan terhadap rumitnya jalan hidup yang harus kita jalani yang diwakili oleh laskar-laskar pelangi . Buku ini mampu membangkitkan gairah semangat menghadapi hidup walau kerikil tajam harus kita jalani, membangkitkan rasa cinta di dalam hati walau telah berulang kali cinta mengkhianati hati kita, menuntun kita bagaimana bangkit dari setiap keterpurukan hidup dan memaknai hidup agar lebih indah walau sebenarnya airmata tak terelakkan menetes pedih.

Tunggu saja cerita menarik berikutnya dari buku kedua “ Sang Pemimpi” …

Satu titik dalam relativitas waktu:

Saat inilah masa depan itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: